AIR MATA MENJADI SUKACITA

Mazmur 126


Seorang petani menabur benih di tanah yang kering dan retak. Ia tahu benih itu akan mati bila hujan tak turun. Namun, ia tetap menabur dengan berharap pada langit. Hatinya berharap pada musim yang akan datang. Begitulah harapan umat Tuhan saat hidup terasa gersang.

Mazmur 126 termasuk dalam nyanyian ziarah yang dinyanyikan pada saat umat menuju Yerusalem. Pemazmur mengenang sukacita ketika TUHAN memulihkan mereka dari pembuangan. Namun, pemulihan itu belum sepenuhnya selesai. Pemazmur memohon agar TUHAN memulihkan seperti aliran air di Negeb. Tanah Negeb adalah wilayah tandus, tetapi sesekali dipulihkan oleh aliran air yang tiba-tiba. Gambaran ini menyiratkan harapan besar di tengah kondisi kering dan sulit. Ayat 5–6 memperkuat harapan ini dengan gambaran menabur dalam air mata dan menuai dalam sorak. Mazmur ini adalah nyanyian iman yang berani berharap dalam penderitaan. Umat percaya bahwa TUHAN yang dulu memulihkan, sanggup melakukannya lagi.

Pemulihan dari Tuhan bisa terjadi secara tiba-tiba, seperti aliran air di padang tandus. Iman menolong kita berharap walau kondisi belum berubah. Banyak dari kita hidup di “tanah Negeb”: tandus secara ekonomi, batin, atau hubungan. Kita mengenang kebaikan Tuhan di masa lalu, tapi kini merasa kosong dan gersang. Pemazmur mengingatkan kita, jangan berhenti berharap. Tuhan yang dulu bekerja, masih sanggup memulihkan kita hari ini. (Wasiat)

DOA: Ya Tuhan, pulihkanlah kami seperti aliran air di tanah kering. Ajari kami berharap meski masih menabur dengan air mata. Amin.

Share this Post